Monday, October 26, 2026
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Contact Us
No Result
View All Result
SEMARANGTERKINI.COM
  • Home
  • Nasional
  • Berita Semarang
  • Internasional
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Hukrim
  • Home
  • Nasional
  • Berita Semarang
  • Internasional
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Hukrim
No Result
View All Result
SEMARANGTERKINI.COM
No Result
View All Result
Home Ekbis

Manfaatkan Tarif Impor AS yang Lebih Rendah, Perusahaan China Ramai-ramai Ekspansi ke Indonesia

admin by admin
August 14, 2025
in Ekbis
0
Manfaatkan Tarif Impor AS yang Lebih Rendah, Perusahaan China Ramai-ramai Ekspansi ke Indonesia
0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsApp

Perusahaan-perusahaan China semakin gencar membidik Indonesia sebagai lokasi ekspansi untuk menghindari tarif impor tinggi Amerika Serikat (AS).

Mereka memanfaatkan tarif AS sebesar 19% untuk barang dari Indonesia, yang lebih rendah dibanding tarif impor dari China yang kini melampaui 30%.

Tarif 19% tersebut setara dengan Malaysia, Filipina, dan Thailand, serta sedikit di bawah Vietnam yang 20%.

Namun, Indonesia memiliki keunggulan tambahan sebagai ekonomi terbesar di Asia Tenggara, negara berpenduduk terbesar keempat di dunia, dan pasar konsumen yang besar.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,12% pada kuartal II/2025, tercepat dalam dua tahun.

Pertumbuhan ini didukung belanja rumah tangga yang menyumbang lebih dari separuh PDB dan naik 4,97% yoy, terbantu banyaknya libur nasional.

“Jika bisa membangun kehadiran bisnis kuat di Indonesia, berarti sudah menguasai setengah pasar Asia Tenggara,” ujar Zhang Chao, produsen lampu depan motor asal China yang beroperasi di Indonesia — pasar motor terbesar ketiga dunia, sebagaimana dilaporkan Reuters.

Gelombang pertama diversifikasi bisnis China sebelumnya menguntungkan Vietnam dan Thailand. Namun, gejolak perdagangan terbaru dengan AS mendorong investor China melirik negara tetangga lain, termasuk Indonesia.

Mira Arifin, Country Head Bank of America di Indonesia, menyebut Indonesia menawarkan talenta melimpah dengan demografi muda yang dinamis. “Investor asing dapat cepat membangun skala bisnis di sini,” ujarnya.

Presiden Prabowo Subianto juga mempererat hubungan dengan Beijing, bertemu Presiden Xi Jinping pada November dan menerima kunjungan PM Li Qiang di Jakarta pada Mei.

Data menunjukkan investasi dari China dan Hong Kong ke Indonesia naik 6,5% yoy menjadi USD8,2 miliar pada semester I/2025.

Total investasi asing langsung (FDI) tumbuh 2,58% menjadi Rp432,6 triliun (USD26,56 miliar), dengan proyeksi peningkatan pada paruh kedua tahun ini.

Meski peluang besar, tantangan tetap ada. Investor asing menyoroti hambatan regulasi, birokrasi, pembatasan kepemilikan, infrastruktur terbatas, dan rantai pasok yang belum sekuat China.

Kebijakan fiskal hati-hati Prabowo dan program populis seperti makan gratis untuk anak sekolah dan ibu hamil juga menjadi perhatian.

Di kawasan industri Subang Smartpolitan, Jawa Barat, permintaan dari investor China melonjak sejak kesepakatan dagang AS–Indonesia diumumkan bulan lalu.

“Telepon, email, dan WeChat kami langsung ramai, semuanya dari China,” kata Abednego Purnomo, VP Sales, Marketing, dan Tenant Relations PT Suryacipta Swadaya.

Permintaan terbesar datang dari produsen mainan, tekstil, hingga kendaraan listrik, yang mencari properti dengan fasilitas lengkap, terutama dekat Pelabuhan Patimban.

Colliers International Indonesia mencatat harga properti industri dan gudang naik 15%–25% yoy pada kuartal I/2025, kenaikan tercepat dalam 20 tahun.

“Permintaan lahan industri hampir setiap hari, banyak yang mencari bangunan siap pakai untuk segera beroperasi,” kata Rivan Munansa dari Colliers.

Zhang mengaku menyewa kantor baru empat lantai di Jakarta pada Mei dengan harga 100.000 yuan (USD13.936) per tahun, naik 43% dari tahun lalu.

“Margin laba di Indonesia bisa 20%–30%, jauh di atas China yang kadang hanya 3%,” ujarnya.

Menurut Marco Foster, Direktur ASEAN di Dezan Shira & Associates, Indonesia menonjol bukan hanya karena peluang diversifikasi rantai pasok, tetapi juga karena pasar domestik raksasa yang jarang dimiliki negara lain di kawasan.***

Previous Post

Harga Emas Pegadaian 14 Agustus 2025 — Kecuali UBS, yang Lain Rontok

Next Post

Cara Membuat Animasi Sederhana dari Handphone

admin

admin

Next Post
Cara Membuat Animasi Sederhana dari Handphone

Cara Membuat Animasi Sederhana dari Handphone

Recommended

Hadir di Semarang, BTN Housingpreneur Bedah Rumah Zaman Now

Hadir di Semarang, BTN Housingpreneur Bedah Rumah Zaman Now

6 days ago
Layanan Digital Menjawab Kebutuhan Daerah, BRK Syariah dan Dumai Fokus ke QRIS Realtime Split

Layanan Digital Menjawab Kebutuhan Daerah, BRK Syariah dan Dumai Fokus ke QRIS Realtime Split

6 days ago

Trending

Lakukan Perawatan Ini Untuk Cegah Mobil Karatan

Lakukan Perawatan Ini Untuk Cegah Mobil Karatan

5 years ago
Sentra Vaksinasi Covid-19 Bakal Hadir di Semarang dan Surabaya

Hindari Konsumsi 5 Makanan dan Minuman Ini Setelah Suntik Vaksin Covid-19

5 years ago

Popular

Kembalikan Segalanya Kepada LAA ILAHA ILLALLAH

Kembalikan Segalanya Kepada LAA ILAHA ILLALLAH

4 years ago
Tentara Israel sengaja tembaki warga Palestina yang kumpulkan bantuan

Tentara Israel sengaja tembaki warga Palestina yang kumpulkan bantuan

3 years ago
Google Bagi Duit untuk Para Wanita, Nilainya Tak Tanggung-Tanggung, Rp1,5 Miliar

Google Bagi Duit untuk Para Wanita, Nilainya Tak Tanggung-Tanggung, Rp1,5 Miliar

3 years ago

AS Tuding Intelijen Rusia Retas Kantor Pemerintahan

6 years ago
Tentang Aleix Espargaro yang Hampir Pensiun di 2018

Tentang Aleix Espargaro yang Hampir Pensiun di 2018

5 years ago
SEMARANGTERKINI.COM

Copyright © 2026. SemarangTerkini.com

  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Semarang
  • Internasional
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Hukrim

Copyright © 2026. SemarangTerkini.com