Thursday, October 8, 2026
  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Contact Us
No Result
View All Result
SEMARANGTERKINI.COM
  • Home
  • Nasional
  • Berita Semarang
  • Internasional
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Hukrim
  • Home
  • Nasional
  • Berita Semarang
  • Internasional
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Hukrim
No Result
View All Result
SEMARANGTERKINI.COM
No Result
View All Result
Home Lingkungan

Laporan Terbaru: Industri Berbahan Bakar Fosil Sumbangkan 389 Juta Ton Emisi Karbon

admin by admin
July 19, 2025
in Lingkungan
0
Laporan Terbaru: Industri Berbahan Bakar Fosil Sumbangkan 389 Juta Ton Emisi Karbon

Foto: Ilustrasi.

0
SHARES
0
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterWhatsApp

Industri bahan bakar fosil menyumbang tambahan 389 juta ton emisi karbon ke atmosfer sepanjang tahun lalu akibat praktik pembakaran gas (flaring). Hal ini berdasarkan laporan terbaru yang dirilis Bank Dunia. Jumlah emisi tersebut hampir setara dengan total emisi tahunan negara Prancis dan menjadi tanda pemborosan besar terhadap energi yang berdampak buruk pada iklim global.

Dilansir dari The Guardian, laporan bertajuk Global Gas Flaring Tracker Report itu menyebutkan sebanyak 151 miliar meter kubik (bcm) gas dibakar selama proses produksi minyak dan gas pada 2024, naik 3 bcm dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini menjadi yang tertinggi sejak 2007, mencerminkan meningkatnya ancaman terhadap upaya transisi energi bersih.

Pembakaran gas umumnya dilakukan untuk membuang gas metana yang muncul saat pengeboran minyak, dengan dalih menjaga keselamatan atau karena biaya pengolahan yang tinggi. Namun, menurut Zubin Bamji, Manajer Kemitraan Global Flaring and Methane Reduction (GFMR) Bank Dunia, praktik ini seharusnya bisa dihindari.

“Pembakaran gas adalah bentuk pemborosan energi yang tidak perlu dan peluang yang terlewatkan untuk memperkuat ketahanan energi dan meningkatkan akses listrik,” ujar Bamji.

Laporan itu mengungkapkan bahwa sembilan negara—Rusia, Iran, Irak, Amerika Serikat, Venezuela, Aljazair, Libya, Meksiko, dan Nigeria—bertanggung jawab atas 75% dari total pembakaran gas global pada 2024. Sebagian besar di antaranya merupakan negara dengan perusahaan minyak milik negara.

Meskipun beberapa negara seperti Angola, Mesir, Indonesia, dan Kazakhstan berhasil menekan pembakaran gas secara signifikan, intensitas pembakaran global (jumlah gas yang dibakar per barel minyak) tetap tinggi selama 15 tahun terakhir.

Perbandingan mencolok terlihat pada Norwegia, yang intensitas pembakarannya 18 kali lebih rendah dari Amerika Serikat dan 228 kali lebih rendah dibandingkan Venezuela.

Andrew Baxter dari Environmental Defense Fund menyebut lonjakan pembakaran gas sebagai kemunduran besar. “Ini adalah pemborosan energi yang sangat merugikan iklim dan kesehatan manusia,” katanya.

Bank Dunia dan Badan Energi Internasional (IEA) telah menyerukan penghentian total pembakaran gas rutin sebelum 2030. Nilai gas yang dibakar tahun lalu diperkirakan mencapai sekitar USD 63 miliar, lebih dari separuh biaya awal yang diperlukan untuk menghentikan praktik tersebut.

Jonathan Banks, pakar metana dari Clean Air Task Force, menyatakan solusi untuk masalah ini sebenarnya sudah tersedia dan tergolong hemat biaya. Tantangannya justru terletak pada minimnya kemauan politik dan lemahnya regulasi di banyak negara produsen minyak.

Namun, laporan juga menyoroti kemajuan positif dari negara-negara yang bergabung dalam inisiatif “Zero Routine Flaring 2030” yang digagas Bank Dunia. Kelompok ini rata-rata berhasil mengurangi intensitas pembakaran sebesar 12% sejak 2012, meskipun volume absolut belum mengalami penurunan signifikan.

“Mengurangi pembakaran gas memang memerlukan investasi, infrastruktur, dan regulasi yang kuat, serta komitmen politik jangka panjang,” tegas Bamji.

 

Previous Post

Harga Emas Hari Ini 19 Juli 2025, Antam Masih Pegang Kendali

Next Post

Thai Tea dan Teh Tarik: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Bedanya

admin

admin

Next Post
Thai Tea dan Teh Tarik: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Bedanya

Thai Tea dan Teh Tarik: Serupa Tapi Tak Sama, Ini Bedanya

Recommended

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi AAA(idn) BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah Jadi Kunci

Fitch Pertahankan Rating Tertinggi AAA(idn) BTN, Peran di Program 3 Juta Rumah Jadi Kunci

2 days ago
BTN Housingpreneur Dorong Desain Hunian Estetik yang Bernilai Bisnis

BTN Housingpreneur Dorong Desain Hunian Estetik yang Bernilai Bisnis

4 days ago

Trending

“Jaga Zapin” Terbukti Efektif jaga Stabilitas Harga TBS Kelapa Sawit Riau

“Jaga Zapin” Terbukti Efektif jaga Stabilitas Harga TBS Kelapa Sawit Riau

2 years ago
Hari Buruh, Cabut Omnibus Law hingga Tolak Upah Murah Jadi Tuntutan Utama Kaum Buruh

Hari Buruh, Cabut Omnibus Law hingga Tolak Upah Murah Jadi Tuntutan Utama Kaum Buruh

2 years ago

Popular

Pengangkatan Pejabat Baru di Kejaksaan Tinggi NTT, Berikut Pesan Kajati

Pengangkatan Pejabat Baru di Kejaksaan Tinggi NTT, Berikut Pesan Kajati

2 years ago
Penghujung Tahun 2021, Khas Pekanbaru, RS Hermina, dan JKC Adakan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Penghujung Tahun 2021, Khas Pekanbaru, RS Hermina, dan JKC Adakan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

5 years ago
Kimia Farma Tunda Penjualan Vaksin Hari Ini

Kimia Farma Tunda Penjualan Vaksin Hari Ini

5 years ago
Google Bagi Duit untuk Para Wanita, Nilainya Tak Tanggung-Tanggung, Rp1,5 Miliar

Google Bagi Duit untuk Para Wanita, Nilainya Tak Tanggung-Tanggung, Rp1,5 Miliar

3 years ago
Sejarah Perkembangan Olahraga untuk Atlet Penyandang Disabilitas

Sejarah Perkembangan Olahraga untuk Atlet Penyandang Disabilitas

2 years ago
SEMARANGTERKINI.COM

Copyright © 2026. SemarangTerkini.com

  • About Us
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Disclaimer
  • Contact Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Nasional
  • Berita Semarang
  • Internasional
  • Ekbis
  • Olahraga
  • Hukrim

Copyright © 2026. SemarangTerkini.com